Perjuangan Tanpa Batas Melawan Keterbatasan

Perjuangan Tanpa Batas Melawan Keterbatasan

Inspiratif, kata yang tepat untuk disematkan pada atlet Para Archery Indonesia Muh Hidayatul Abror. Sejatinya Archery merupakan cabang olahraga yang mengandalkan kemampuan dan koordinasi kedua tangan untuk memegang busur dan menarik anak panah. Namun ‘kebiasaan’ tersebut tidak berlaku untuk pria ini. Ia menggunakan satu tangan untuk memegang busur, dan menarik anak panahnya dengan menggunakan gigi.

Dikisahkan olehnya, pria berusia 46 tahun ini sebenarnya tertarik dengan olahraga panahan sejak remaja. Namun keterbatasan informasi dan ketersediaan alat dan prasana membuat mimpi untuk terjun ke dunia panahan menjadi tertunda. Baru pada tahun 2014 keinginan tersebut mulai terwujud. Bersama rekan-rekannya, Abror mendirikan sebuah klub panahan Prambanan Archery Sport. Pada awalnya Abror hanya bisa melihat rekan-rekannya berlatih saja, karena keterbatasan hanya memiliki satu tangan. Kecelakaan yang terjadi pada tahun 2001 membuat bagian tangan kanannya harus diamputasi.

Tidak berhenti disitu, pria kelahiran Sleman ini kemudian memikirkan dan mencari cara bagaimana agar ia bisa ikut berlatih memanah. Pertama kali mencoba, bagian tangan kanannya dikaitkan dengan besi. Tapi setelah melakukan beberapa latihan, metode tersebut dirasakan tidak efektif. Setelah itu Abror terus melakukan eksperimen agar bisa memanah dengan efektif dan efisien. Sampai akhirnya ia mantap menggunakan gigi sebagai organ tubuh penarik anak panah. Berdasarkan pengalaman dan percobaan tersebut, pria asal Prambanan ini juga melakukan inovasi mencoba semua alat yang ada baik yang di kelas Archery umum maupun di kelas Para Archery. Diantaranya Barbecue, Recurve Bow, dan Compound Bow meski ia tetap menyadari bahwa setiap alat memiliki karakter dan tingkat kesulitan tersendiri.

Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Bandung 2016 merupakan event yang pertama kali ia ikuti sebagai seorang Paralympian. Saat itu Ia mewakili NPCI DIY dan berhasil meraih medali perak pada kelas Compound Bow kategori mix team. Setelah itu ia terus mengasah kemampuan memanah dan mental bertandingnya dengan mengikuti berbagai kejuaraan baik kejuaraan di semua kelas (para dan umum).

Menghadapi berbagai rintangan dan halangan, diakui olehnya kemampuan memanahnya memang naik turun. Pada Kejuaraan Nasional Para Archery 2018, ia merasa hasilnya tidak memuaskan sehingga tidak dipanggil di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) 2019. Ia kemudian memotivasi diri melakukan latihan tersendiri dengan keras, dengan porsi latihan melebihi jadwal yang ada di pelatnas saat itu. Ia bertekad bisa memperbaiki catatan memanahnya dan bisa melebihi catatan para atlet yang sudah terlebih dahulu bergabung di pelatnas. Pada kesempatan promosi-degradasi atlet pelatnas di awal bulan Agustus lalu,  Abror tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berhasil keluar sebagai atlet dengan raihan catatan terbaik. Ia berhak menjadi anggota skuad tim Para Archery Indonesia yang akan tampil di Asean Para Games Philippines 2020 mendatang.

Pada bulan pertamanya di Pelatnas, Ia langsung tampil dan mampu meraih medali perunggu di kelas beregu Surabaya Open 2019.

“Keterbatasan itu harus kita taklukan, apabila bisa ditaklukan itu akan menjadi kelebihan buat kita. Mimpi itu hak semua orang, mimpi itu tidak ada batasan usia dan tak ada batasan anggota tubuh” pesan seorang Muh Hidayatulah Abror.

Leave a Reply

Your email address will not be published.