Perjuangan Emas Muhammad Fadli

Perjuangan Emas Muhammad Fadli
“Fadli menjadi satu-satunya peserta yang tidak dikawal. Tim hanya bisa berharap dan berdoa, semoga Fadli selamat sampai titik finish”
 

Untuk keperluan proyeksi kualifikasi Paralympic Tokyo 2020, ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah mengikuti event kualifikasi Paralympic.

Paracycling sebagai salah satu cabang olahraga andalan NPC, pada tahun 2019 sudah mengikuti berbagai event kualifikasi, antara lain:

  • Track ACC di Jakarta (Januari 2019)
  • Training Camp di Agle Swiss (Februari 2019)
  • Track World Paracycling Championships di Apeldoorn Belanda (Maret 2019)
  • Road Asian Cycling-Paracycling Championships (ACC) 2019 di Tashkent Uzbekistan (April 2019).

Prestasi sementara cabang olahraga Paracycling di tahun 2019 adalah:
1. Track ACC Jakarta: meraih 1 emas (dr Fadli point 30), 4 perak, 4 perunggu
2. Track World Championships Apeldoorn: masuk 10 besar dunia (meraih point 25)
3. Road ACC Tashkent: meraih emas (point 30).

Semua event diatas berjalan berkat support dari NPC Indonesia dan Federation Cycling Indonesia, dengan pembiayaan murni khusus dari NPC Indonesia. Fadli dan seluruh atlet cabor Paralympic, belum masuk dalam program Pelatnas sehingga pembiayaan belum bisa menggunakan anggaran dari pemerintah.

Perjuangan emas ini bukanlah perjuangan yang mudah. Perjalanan sampai ke Tashkent Uzbekistan membutuhkan waktu 34 jam. Tim Indonesia bermalam di hotel alternatif, bukan hotel utama tempat kegiatan. Sehingga membutuhkan tranportasi/taksi untuk menuju hotel utama, pusat kepanitiaan, maupun menuju ke tempat pertandingan.

Di event Road dan Time Trial sebenarnya tiap negara mendapat 1 mobil untuk operasional dan pengawalan atlet saat bertanding. Satu-satunya peserta yang tidak mendapatkan fasilitas mobil oleh panitia di hari pertama bertanding hanyalah tim Indonesia.

Perjalanan kami Selasa pagi ini, 23 April 2019 dari hotel menuju ke lokasi pertandinganpun sudah menjadi kendala dan permasalahan yang harus dihadapi sebelum lomba. Dengan tidak tersedianya jatah transportasi, maka selama Fadli bertanding official tidak bisa mengawal, memantau, membawa peralatan cadangan, dan membantu jika terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Fadli menjadi satu-satunya peserta yang tidak dikawal. Tim hanya bisa berharap dan berdoa, semoga Fadli selamat sampai titik finish.

Syukurlah Fadli bisa mencapai finish dengan selamat, dengan catatan waktu manual 30.28 dg jarak 20 km. Di event ACC 2019 Uzbekistan ini masing-masing pembalap tidak dibekali transporder sebagai pengecek akurasi catatan waktu dalam timing system. Tidak ada layar monitor, sehingga harus menunggu final result dari penyelenggara untuk mengetahui catatan waktu dan penentuan juara lomba.

Pengumuman hasil lomba ternyata mengagetkan seluruh tim peserta. Terutama untuk Paracycling ITT 20 km kelas MC 1-5 yang digabung karena sangat merugikan bagi kelas ringan MC 4-5 jika harus di by faktor waktunya dg MC 1-3. Hal ini jarang terjadi dalam event Paracycling. Regulasi UCI jika masing-masing kelas agybel (memenuhi syarat peserta lomba), perkelas dipertandingkan. Jika tidak agybel perlu dicombain/digabung dengan minimal menjadi kelas MC 1-3 dan MC 4-5.

Dari hasil pertandingan yang digabung untuk kelas MC 1-5 dengan by faktor maka Fadli (MC4) berada pada rangking 4. Rangking 1 Kawamoto (Jepang MC2), ranking 2 Saharuddin (Malaysia MC1), dan ranking 3 Jik Yongsik (Korea MC3).

Award ceremony berlangsung untuk seluruh pemenang tiap kelas pada Day 1 Competition. Tiba saatnya untuk award ceremony kelas Paracycling MC 1-5. Terjadi penundaan waktu yang cukup lama. Beberapa negara terutama India mengajukan argumen diskusi dengan Panitia dan PCP (President Commisaire Panel) tentang result MC 1-5 yang digabung. Setelah alot dalam diskusi, akhirnya diputuskan kelas Paracycling Men C 1-5 dipisah menjadi 2 kelas, yaitu MC 1-3 dan MC 4-5.

Akhirnya rider Paracycling andalan Indonesia Muhammad Fadli Imammuddin kelas Men C4 bisa meraih emas kembali pada Road ACC tahun 2019 di Tashkent Uzbekistan. Urutan kedua ditempati Turano Muhammad Najib (Malaysia) dan ketiga Shah Divij (India). Gelar Fadli ini mempertahankan Emas dua tahun silam di Road ACC Nay Py Thaw Myanmar 2017 dan menambah point kualifikasi menuju Paralympic Tokyo 2020.

Atas nama pembina dan pelatih Paracycling Indonesia, kami mengucapkan terima kasih secara khusus kepada bapak Senny Marbun Ketua Umum NPC Indonesia yang telah memberikan restu dan support pembiayaan atas raihan kalungan emas & jersey putih UCI Fadli di kejuaraan ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.